TOPIK 3. Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik dalam Pembelajaran

AKSI NYATA

 

Ni Putu Ayu Emalasari - PPG Prajabatan Gel. 1 Tahun 2023

Sumber: 
https://tatkala.co/wp-content/uploads/2023/06/pendidikan-inklusif.jpg

1.  Mulai dari Diri: Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?

Sebelum memulai proses pembelajaran, saya mempertimbangkan bagaimana saya dapat mengintegrasikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik ke dalam kurikulum serta menentukan metode dan strategi pendekatan yang sesuai. Saya menyadari bahwa keberagaman latar belakang siswa dapat mempengaruhi gaya belajar mereka, sehingga penting untuk memahami konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik mereka. Dengan memperhatikan faktor-faktor ini, saya dapat merancang pembelajaran yang relevan, menarik, dan inklusif untuk semua siswa, dengan tujuan meningkatkan prestasi akademis dan non-akademis mereka serta mengembangkan karakter mereka.

Selain itu, sebagai guru, saya menyadari bahwa peserta didik memiliki beragam karakteristik yang menjadi tantangan dalam mengajar. Oleh karena itu, penting untuk terus mengenal siswa-siswa ini dengan mempelajari Topik 3 ini. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan wawasan saya, tetapi juga membantu saya mengidentifikasi praktik terbaik yang dapat saya terapkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang relevan, responsif, dan berfokus pada perkembangan holistik siswa, baik secara akademis maupun non-akademis.

2.  Eksplorasi Konsep: Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?

Materi yang saya pelajari dari Topik 3 meliputi pemahaman tentang pengaruh perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam konteks pembelajaran. Saya memahami bahwa interaksi antara orang dewasa dan anak-anak memainkan peran penting dalam proses sosialisasi kognitif, membentuk sikap, nilai, dan keterampilan yang esensial bagi perkembangan anak-anak. Kompetensi anak-anak berkembang melalui beragam interaksi sosial yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti struktur keluarga, nilai-nilai, dan tuntutan tugas yang terintegrasi secara historis. Penelitian dalam Topik 3 menekankan pentingnya menganalisis aspek budaya-historis dalam interaksi orang dewasa-anak, terutama dalam hubungannya dengan faktor-faktor sosio-ekonomi (SES). Pendekatan Cultural-Historical-Activity-Theory (CHAT) digunakan untuk merangkum variasi dalam interaksi orang dewasa-anak yang terkait dengan SES. Saya juga mempelajari tujuan dari Topik 3 ini, yaitu untuk mengintegrasikan literatur tentang interaksi orang dewasa-anak dengan memperhatikan faktor-faktor yang terkait dengan SES dalam konteks sosialisasi. Seperti yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978), anak-anak berkembang menjadi bagian dari kehidupan intelektual orang-orang di sekitar mereka. Teori yang dikemukakan oleh Ratner (2000) juga menyoroti beragam fenomena budaya yang mempengaruhi proses sosialisasi, seperti aktivitas budaya, nilai-nilai, skema, makna, konsep budaya, artefak fisik, fenomena psikologis, dan agensi. Pemahaman ini menjadi kunci dalam menganalisis budaya sekolah, di mana struktur dan persepsi berperan penting dalam membentuk bahasa yang dipahami oleh semua individu, meskipun proses ini seringkali berlangsung di luar kesadaran mereka.

Ketika struktur diferensiasi, yang telah terbentuk secara kultural dan historis, beroperasi di lingkungan sekolah, hal ini menghasilkan mekanisme pemilahan yang kompleks. Gaya hidup dominan secara tak langsung menerapkan suatu "logika" kekerasan simbolik. Meskipun istilah kekerasan simbolik mungkin terdengar dramatis, namun memiliki arti yang konkret dan signifikan. Kekerasan simbolik ini digunakan untuk mempengaruhi, mengatur, bahkan menentukan objektivitas melalui penilaian yang membedakan peluang, seperti hierarki yang jelas antara "kemampuan" tinggi dan rendah yang ditentukan melalui identifikasi dialektis atau melalui ujian. Penting untuk dicatat bahwa cara kerja budaya dari estetika dominan di lingkungan sekolah seringkali tidak tampak secara langsung, terasa "alami", dan tidaklah disengaja untuk diinterpretasikan sebagai tindakan jahat yang dilakukan oleh pendidik. Sebaliknya, logika kekerasan simbolik merupakan bagian dari budaya yang mungkin terjadi tanpa disadari oleh individu, yang perlu diungkapkan melalui analisis yang mendalam. Oleh karena itu, penting bagi saya sebagai calon guru untuk mempersiapkan diri dalam memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam proses pembelajaran. Mengapa? Karena semua aspek tersebut sangatlah relevan dalam konteks pembelajaran yang holistik dan responsif terhadap kebutuhan serta pengalaman siswa. Dunia saat ini semakin kompleks dengan konektivitas global dan keragaman budaya yang semakin menonjol. Oleh karena itu, menjadi seorang guru bukan hanya tentang memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga tentang membantu siswa memahami bagaimana isu-isu sosial, ekonomi, dan politik memengaruhi kehidupan mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Penting untuk memastikan bahwa pendekatan pembelajaran yang diterapkan tidaklah diskriminatif dan mencakup kebutuhan serta pengalaman semua siswa, tanpa memandang latar belakang mereka.

3.  Ruang Kolaborasi: Apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?

Dalam kerangka kolaborasi, saya dan rekan-rekan kelompok saya menyelidiki dua aspek penting: pandangan terhadap perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran, serta kesiapan untuk mengajar dengan mempertimbangkan aspek-aspek ini dalam konteks pendidikan peserta didik. Dari diskusi kami, saya mendapati bahwa memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik sangat penting karena hal ini memengaruhi berbagai aspek dalam proses pendidikan.

1)      Perspektif Sosial: Faktor sosial seperti status ekonomi keluarga, komunitas, dan interaksi sosial memiliki dampak besar terhadap pendidikan. Lingkungan sosial memengaruhi motivasi, persepsi diri, dan harapan siswa terhadap pendidikan. Berbagai tantangan mungkin dihadapi oleh siswa dari latar belakang sosial yang berbeda, sehingga pendidikan perlu mengadopsi pendekatan yang memperhitungkan keberagaman sosial untuk memberikan dukungan yang sesuai kepada semua siswa.

2)      Perspektif Budaya: Budaya memainkan peran penting dalam pembelajaran dan interaksi sosial. Pendidikan harus mengakui dan menghargai keberagaman budaya siswa serta mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam kurikulum dan metode pengajaran. Pendekatan yang sensitif secara budaya dapat membantu memperkuat hubungan antara budaya siswa dan lingkungan pembelajaran.

3)      Perspektif Ekonomi: Ketidaksetaraan ekonomi dapat menjadi hambatan dalam mencapai pendidikan yang adil dan berkualitas. Siswa dari latar belakang ekonomi rendah mungkin mengalami kesulitan dalam mengakses sumber daya pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, pendidikan inklusif harus bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dengan memberikan sumber daya yang memadai dan mendukung siswa dari semua lapisan masyarakat.

4)      Perspektif Politik: Kebijakan pendidikan dan regulasi politik memiliki dampak besar pada sistem pendidikan secara keseluruhan. Kebijakan ini memengaruhi alokasi sumber daya, kurikulum, standar penilaian, dan praktek pengajaran. Penting bagi kebijakan pendidikan untuk mempromosikan aksesibilitas yang adil, kesetaraan, dan kualitas pendidikan yang tinggi bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang politik atau kepentingan tertentu.

Menurut pandangan saya, kesiapan seorang guru dalam mengajar dengan memperhatikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran pada peserta didik merupakan aspek yang sangat penting. Guru harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa mereka. Ini termasuk mempelajari tentang keberagaman budaya di kelas, tantangan yang dihadapi siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda, serta isu-isu politik yang dapat memengaruhi proses pendidikan mereka.

Untuk mengatasi keberagaman ini, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh guru dalam menyusun pembelajaran yang mengutamakan kepentingan peserta didik:

1)  Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi: Pendekatan ini bertujuan untuk memfasilitasi, melayani, dan memenuhi kebutuhan belajar serta karakteristik yang beragam dari peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi melibatkan tiga komponen utama: konten, proses, dan produk. Dengan pendekatan ini, guru dapat menyesuaikan kurikulum, metode pengajaran, dan penilaian sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan individu dari setiap peserta didik.

2)     Menerapkan pembelajaran tanggap budaya: Mengingat keberagaman latar belakang siswa yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebudayaan, status sosial, dan ekonomi, guru perlu mempersiapkan pembelajaran yang tanggap budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan kebudayaan atau kearifan lokal ke dalam pembelajaran sehingga menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan responsif bagi siswa. Selain itu, untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kultural, guru dapat mendorong komunikasi lintas budaya dan dialog budaya, misalnya dengan bermain peran serta memahami perspektif dan pandangan orang lain.

Dengan menerapkan pendekatan-pendekatan ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan serta pengalaman peserta didik, sehingga membantu mereka merasa dihargai dan dihormati dalam identitas kebudayaan mereka serta mengembangkan keterampilan sosial dan kultural yang penting dalam konteks global yang semakin terhubung.

4.  Demonstrasi Kontekstual: Apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?

Dari pengalaman proses demonstrasi kontekstual, saya dan rekan-rekan mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkolaborasi, berpikir kritis, dan saling mengasah kemampuan dalam pemahaman Topik 3. Diskusi tersebut dilakukan dengan menayangkan slide presentasi yang membahas konten pembelajaran dari ruang kolaborasi. Kami menyadari bahwa memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran sangat penting untuk merancang pembelajaran yang lebih relevan, responsif, dan efektif, terutama mengingat keberagaman latar belakang dan karakteristik siswa yang beragam.

Dalam merencanakan pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan kesiapan mereka dalam memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa. Ini melibatkan pemilihan metode dan strategi pendekatan yang tepat, serta asesmen dan penilaian yang sesuai untuk merangsang berpikir kritis dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

Selain itu, alur demonstrasi kontekstual menjadi kesempatan bagi kami untuk berdiskusi dan mengatasi konsep-konsep yang mungkin kurang dimengerti, sebagai bagian dari pengembangan diri dan peningkatan profesionalitas terkait perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran. Dengan demikian, kami dapat terus meningkatkan pemahaman kami dan mengintegrasikan pengetahuan ini dalam praktik pengajaran kami untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan efektif bagi siswa.

5.  Elaborasi Pemahaman:

Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang topik ini?

Pada Topik 3, saya telah memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mempertimbangkan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam konteks pembelajaran. Selain itu, saya juga menyadari tantangan yang timbul dalam menghadapi perbedaan perspektif tersebut, di mana diperlukan pendekatan pembelajaran yang holistik untuk mengatasi keberagaman latar belakang peserta didik.

Kesadaran akan keberagaman menjadi kunci dalam memahami dan menghargai keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik di antara siswa. Ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan materi-materi yang mencerminkan keberagaman tersebut dan mendorong diskusi terbuka tentang pengalaman siswa. Pembelajaran harus dirancang agar relevan dengan konteks nyata siswa dan responsif terhadap kebutuhan mereka.

Saya percaya bahwa semua siswa harus merasa dihargai dan didukung dalam lingkungan pembelajaran. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan siswa dalam pembentukan budaya kelas yang inklusif, memperkuat komunitas belajar yang saling mendukung, dan mengembangkan keterampilan analisis kritis melalui studi kasus terhadap isu-isu sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, siswa dapat memahami kompleksitas dunia mereka dan menjadi warga yang lebih terampil dan terinformasi.

Apa hal baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran dimulai?

Sesuatu yang baru yang saya pahami dan mengalami perubahan dari pemahaman awal sebelum pembelajaran dimulai adalah pentingnya menyelaraskan pengajaran dengan realitas siswa. Dalam proses ini, kita belajar untuk menghargai dan memahami nilai-nilai, kepercayaan, dan praktik-praktik yang berbeda di antara individu dan komunitas. Penghargaan terhadap keragaman ini tidak hanya memperkaya pengalaman pembelajaran, tetapi juga memperkuat nilai-nilai inklusi, empati, dan penghormatan terhadap perbedaan dalam masyarakat yang semakin terhubung. Selain itu, menghadapi tantangan ini juga membantu kita mengembangkan keterampilan adaptasi yang kuat, yang sangat berharga dalam menghadapi perubahan yang berkelanjutan di lingkungan pembelajaran dan masyarakat pada umumnya.

Proses ini juga memperkuat ikatan dalam komunitas pembelajaran kita. Dengan membangun lingkungan yang mendukung dan inklusif, kita menciptakan ruang bagi setiap individu untuk merasa dihargai, didengar, dan didukung dalam perjalanan pembelajaran mereka. Dengan pendekatan yang sensitif dan inklusif terhadap beragam perspektif, kita juga meningkatkan kualitas pembelajaran. Materi yang diajarkan menjadi lebih relevan, kontekstual, dan bermakna bagi siswa, yang memperkaya pengalaman belajar mereka.

Selain itu, mengatasi tantangan ini juga membawa dampak pada pemberdayaan individu. Dengan memperkuat pemahaman dan keterampilan mereka dalam menghadapi berbagai perspektif, individu menjadi lebih mampu untuk berkontribusi secara positif dalam masyarakat yang semakin kompleks dan terhubung ini. Mereka dapat mencapai potensi penuh mereka dan menjadi agen perubahan yang berarti dalam komunitas mereka.

Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut? 

Sebagai langkah lanjutan dalam pemahaman mengenai perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran, saya tertarik untuk mengeksplorasi lebih dalam tentang bagaimana guru dapat mengembangkan keterampilan pedagogis mereka dalam menghadapi tantangan yang terkait dengan hal tersebut. Saya ingin memahami lebih lanjut tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip seperti menghargai keragaman budaya, membangun interaksi sosial yang mendukung, dan memahami zona proksimal peserta didik dalam konteks pembelajaran yang sebenarnya. Selain itu, saya ingin mengetahui bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi semua siswa merasa dihargai dan diterima, sambil mengintegrasikan perbedaan budaya, latar belakang, dan pengalaman pribadi mereka ke dalam proses pembelajaran.

Saya juga tertarik untuk memahami bagaimana siswa dapat menggunakan kolaborasi dan interaksi sebagai sarana untuk saling belajar dan berkembang. Selain itu, saya ingin mempelajari strategi untuk menemukan dan merespons zona proksimal individu dengan latar belakang yang beragam, serta bagaimana mengidentifikasi potensi dan kebutuhan setiap siswa untuk membantu mereka berkembang secara optimal. Tujuan saya adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik-praktik konkret yang dapat saya terapkan dalam lingkungan pembelajaran, sehingga saya dapat menjadi pendidik yang lebih efektif dalam mendukung keberagaman dan perkembangan peserta didik saya.

6.  Koneksi Antar Materi: Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?

Koneksi antar materi pada beberapa mata kuliah yang lain yang saya pelajari dari semester 1 hingga saat ini yang berkaitan dengan konsep dasar perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran, melalui konsep Perspektif sosiokultural dalam konteks pendidikan berarti memandang keberagaman karakteristik siswa yang didasarkan pada status sosialekonomi [SES] yakni aktivitas sosial dan interaksi orang dewasa-anak membentuk dasar sosialisasi kognitif dan untuk memahaminya dapat menggunakan Cultural-Historical-Activity-Theory [CHAT]. Adapun koneksi antar materinya yaitu 1) MK Filosofi Pendidikan Indonesia yaitu berdasarkan perspektif Ki Hadjar Dewantara bahwa  perlu adanya perubahan pendidikan yang mengutamakan “intelektualisme” menjadi sistem mengajar berdasarkan “tuntunan” bukan “paksaan” agar menjadi manusia yang merdeka dan bahagia secara lahir dan batin, 2) MK Prinsip Pengajaran dan Asesmen yang Efektif yaitu asesmen tidak hanya mempertimbangkan aspek akademis tetapi juga aspek non-akademis karena asesmen  membahas cara mengevaluasi dengan memperhitungkan keberagaman siswa seperti penilaian formatif, yang mempertimbangkan latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik peserta didik hingga memungkinkan adanya umpan balik.. Pembelajaran hendaknya berdiferensiasi dan tanggap budaya untuk memfasilitasi peseerrta didik dalam pembelajaran, dan 3) MK Praktik Pengalaman Lapangan yaitu melalui PPL sebagai pengembangan diri dalam profesi guru dengan memperhatikan perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik siswa  dalam situasi nyata di kelas dengan mempraktikkan strategi mengajar yang responsif dan efektif terhadap keberagaman siswa dan menciptakan pembelajaran berpusat pada siswa.

7.  Aksi Nyata:

Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?

Pengetahuan mengenai konsep dasar perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa dalam konteks pembelajaran memberikan manfaat yang signifikan dalam persiapan saya sebagai seorang guru. Dengan pemahaman yang kuat tentang latar belakang sosial dan kedalaman budaya siswa, saya dapat meningkatkan relevansi dan responsivitas pengalaman pembelajaran saya. Ini memungkinkan saya untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung.

Perspektif ini membantu saya melihat setiap siswa sebagai individu yang unik, dengan kebutuhan dan potensi yang beragam. Hal ini memungkinkan saya untuk merespons dengan lebih tepat terhadap keberagaman tersebut, serta menggunakan budaya dan konteks sosial siswa untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran mereka. Diskusi yang lebih luas dan pembangunan kemajuan akademik dan pribadi siswa juga dapat didorong melalui pendekatan ini.

Selain itu, pemahaman saya tentang bagaimana struktur sosial dan kekuasaan berfungsi dalam konteks pendidikan memungkinkan saya untuk mengidentifikasi dan mengatasi ketidaksetaraan yang mungkin ada di dalam kelas. Ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih adil bagi semua siswa.

Tidak hanya itu, perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa dalam pembelajaran juga membekali saya sebagai agen perubahan dalam mempromosikan inklusi dan kesetaraan di masyarakat secara keseluruhan dan di lingkungan sekolah saya sendiri. Dengan demikian, saya dapat berperan aktif dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua siswa.

Bagaimana Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya?

Jika saya mengevaluasi tingkat kesiapan saya sebagai seorang calon guru, saya akan menempatkannya pada skala 7 untuk kemampuan berinteraksi dengan siswa dari beragam latar belakang. Namun, saya sadar bahwa saya belum sepenuhnya mengimplementasikan dan mengalami kurangnya pengalaman dalam menerapkan konsep-konsep yang telah saya pelajari terkait perspektif sosiokultural. Implementasi praktik yang baik dari konsep-konsep ini membutuhkan waktu dan latihan yang memadai, yang belum saya peroleh secara menyeluruh.

Selain itu, saya juga menyadari bahwa saya belum memiliki kesempatan untuk melihat secara langsung dan memahami dengan mendalam latar belakang siswa. Untuk memahami kompleksitas keberagaman yang mungkin ada di dalam kelas, saya menyadari pentingnya hadir secara langsung di lingkungan belajar dan berinteraksi langsung dengan siswa.

Saya juga menyadari bahwa pengetahuan saya tentang perspektif sosiokultural masih terbatas, dan saya yakin bahwa masih banyak aspek yang lebih dalam dan beragam yang akan saya pelajari dalam topik-topik selanjutnya. Misalnya, memahami lebih lanjut komponen sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi pendidikan akan membantu saya menjadi guru yang lebih siap dalam menerima berbagai jenis siswa. Oleh karena itu, saya bertekad untuk terus belajar, meresapi pengalaman, dan mencari cara untuk menerapkan ide-ide sosiokultural dalam praktik pembelajaran saya sebagai bagian dari persiapan saya menjadi seorang guru yang lebih kompeten dan responsif.


Apa yang perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?

Saya meyakini bahwa melalui kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia ini dan dengan melakukan tugas-tugas dengan sepenuh hati, saya akan menjadi lebih siap dalam menerapkan pengetahuan yang saya peroleh ketika saya memasuki dunia profesional sebagai seorang guru. Dengan berpartisipasi aktif dalam aktivitas akademis ini, saya akan memiliki peluang untuk memperluas wawasan dan pemahaman saya mengenai bagaimana variabel kontekstual, sosial, dan budaya berpengaruh pada proses pendidikan.

Pendekatan ini memberikan fondasi yang kokoh untuk peran seorang guru, yang tidak hanya memerlukan pemahaman yang kuat terhadap materi pelajaran, tetapi juga pemahaman yang dalam mengenai bagaimana menerapkan konsep-konsep sosiokultural dalam pengajaran sehari-hari. Dengan demikian, saya akan memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan siswa yang beragam dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih mendukung. Sesuai visi saya yaitu “Menjadi Guru Professional Yang Penuh Dedikasi Serta Menjadi Tauladan Untuk Peserta Didik”, dari visi ini saya berharap saya dapat berkontribusi positif dalam siswa meraih potensi yang optimal dan melakukan perubahan untuk kemajuan pendidikan khususnya di Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

TOPIK 4. Pembelajaran pada ‘Zone of Proximal Development (ZPD)’

Topik 1. Aksi Nyata (Refleksi Pembelajaran Perspektif Sosiokultural Dalam Pendidikan Indonesia)