TOPIK 3. Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi dan Politik dalam Pembelajaran
AKSI NYATA
Ni Putu Ayu Emalasari - PPG Prajabatan Gel. 1 Tahun 2023
1. Mulai dari Diri:
Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Sebelum memulai
proses pembelajaran, saya mempertimbangkan bagaimana saya dapat
mengintegrasikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik ke dalam
kurikulum serta menentukan metode dan strategi pendekatan yang sesuai. Saya
menyadari bahwa keberagaman latar belakang siswa dapat mempengaruhi gaya
belajar mereka, sehingga penting untuk memahami konteks sosial, budaya,
ekonomi, dan politik mereka. Dengan memperhatikan faktor-faktor ini, saya dapat
merancang pembelajaran yang relevan, menarik, dan inklusif untuk semua siswa,
dengan tujuan meningkatkan prestasi akademis dan non-akademis mereka serta
mengembangkan karakter mereka.
Selain itu,
sebagai guru, saya menyadari bahwa peserta didik memiliki beragam karakteristik
yang menjadi tantangan dalam mengajar. Oleh karena itu, penting untuk terus
mengenal siswa-siswa ini dengan mempelajari Topik 3 ini. Hal ini tidak hanya
akan meningkatkan wawasan saya, tetapi juga membantu saya mengidentifikasi
praktik terbaik yang dapat saya terapkan untuk menciptakan lingkungan
pendidikan yang relevan, responsif, dan berfokus pada perkembangan holistik
siswa, baik secara akademis maupun non-akademis.
2. Eksplorasi
Konsep: Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?
Materi
yang saya pelajari dari Topik 3 meliputi pemahaman tentang pengaruh perspektif
sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam konteks pembelajaran. Saya memahami
bahwa interaksi antara orang dewasa dan anak-anak memainkan peran penting dalam
proses sosialisasi kognitif, membentuk sikap, nilai, dan keterampilan yang
esensial bagi perkembangan anak-anak. Kompetensi anak-anak berkembang melalui
beragam interaksi sosial yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti struktur
keluarga, nilai-nilai, dan tuntutan tugas yang terintegrasi secara historis. Penelitian
dalam Topik 3 menekankan pentingnya menganalisis aspek budaya-historis dalam
interaksi orang dewasa-anak, terutama dalam hubungannya dengan faktor-faktor
sosio-ekonomi (SES). Pendekatan Cultural-Historical-Activity-Theory (CHAT)
digunakan untuk merangkum variasi dalam interaksi orang dewasa-anak yang
terkait dengan SES. Saya juga mempelajari tujuan dari Topik 3 ini, yaitu untuk
mengintegrasikan literatur tentang interaksi orang dewasa-anak dengan memperhatikan
faktor-faktor yang terkait dengan SES dalam konteks sosialisasi. Seperti yang
dikemukakan oleh Vygotsky (1978), anak-anak berkembang menjadi bagian dari
kehidupan intelektual orang-orang di sekitar mereka. Teori yang dikemukakan
oleh Ratner (2000) juga menyoroti beragam fenomena budaya yang mempengaruhi
proses sosialisasi, seperti aktivitas budaya, nilai-nilai, skema, makna, konsep
budaya, artefak fisik, fenomena psikologis, dan agensi. Pemahaman ini menjadi
kunci dalam menganalisis budaya sekolah, di mana struktur dan persepsi berperan
penting dalam membentuk bahasa yang dipahami oleh semua individu, meskipun
proses ini seringkali berlangsung di luar kesadaran mereka.
Ketika
struktur diferensiasi, yang telah terbentuk secara kultural dan historis,
beroperasi di lingkungan sekolah, hal ini menghasilkan mekanisme pemilahan yang
kompleks. Gaya hidup dominan secara tak langsung menerapkan suatu "logika"
kekerasan simbolik. Meskipun istilah kekerasan simbolik mungkin terdengar
dramatis, namun memiliki arti yang konkret dan signifikan. Kekerasan simbolik
ini digunakan untuk mempengaruhi, mengatur, bahkan menentukan objektivitas
melalui penilaian yang membedakan peluang, seperti hierarki yang jelas antara
"kemampuan" tinggi dan rendah yang ditentukan melalui identifikasi
dialektis atau melalui ujian. Penting untuk dicatat bahwa cara kerja budaya
dari estetika dominan di lingkungan sekolah seringkali tidak tampak secara
langsung, terasa "alami", dan tidaklah disengaja untuk
diinterpretasikan sebagai tindakan jahat yang dilakukan oleh pendidik.
Sebaliknya, logika kekerasan simbolik merupakan bagian dari budaya yang mungkin
terjadi tanpa disadari oleh individu, yang perlu diungkapkan melalui analisis
yang mendalam. Oleh karena itu, penting bagi saya sebagai calon guru untuk
mempersiapkan diri dalam memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan
politik dalam proses pembelajaran. Mengapa? Karena semua aspek tersebut
sangatlah relevan dalam konteks pembelajaran yang holistik dan responsif
terhadap kebutuhan serta pengalaman siswa. Dunia saat ini semakin kompleks
dengan konektivitas global dan keragaman budaya yang semakin menonjol. Oleh
karena itu, menjadi seorang guru bukan hanya tentang memberikan pengetahuan
akademis, tetapi juga tentang membantu siswa memahami bagaimana isu-isu sosial,
ekonomi, dan politik memengaruhi kehidupan mereka dan masyarakat secara
keseluruhan. Penting untuk memastikan bahwa pendekatan pembelajaran yang
diterapkan tidaklah diskriminatif dan mencakup kebutuhan serta pengalaman semua
siswa, tanpa memandang latar belakang mereka.
3. Ruang
Kolaborasi: Apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda
dalam ruang kolaborasi?
Dalam
kerangka kolaborasi, saya dan rekan-rekan kelompok saya menyelidiki dua aspek
penting: pandangan terhadap perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik
dalam pembelajaran, serta kesiapan untuk mengajar dengan mempertimbangkan
aspek-aspek ini dalam konteks pendidikan peserta didik. Dari diskusi kami, saya
mendapati bahwa memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik sangat
penting karena hal ini memengaruhi berbagai aspek dalam proses pendidikan.
1) Perspektif Sosial: Faktor sosial seperti status
ekonomi keluarga, komunitas, dan interaksi sosial memiliki dampak besar
terhadap pendidikan. Lingkungan sosial memengaruhi motivasi, persepsi diri, dan
harapan siswa terhadap pendidikan. Berbagai tantangan mungkin dihadapi oleh
siswa dari latar belakang sosial yang berbeda, sehingga pendidikan perlu
mengadopsi pendekatan yang memperhitungkan keberagaman sosial untuk memberikan
dukungan yang sesuai kepada semua siswa.
2) Perspektif Budaya: Budaya memainkan peran penting
dalam pembelajaran dan interaksi sosial. Pendidikan harus mengakui dan
menghargai keberagaman budaya siswa serta mengintegrasikan nilai-nilai budaya
dalam kurikulum dan metode pengajaran. Pendekatan yang sensitif secara budaya dapat
membantu memperkuat hubungan antara budaya siswa dan lingkungan pembelajaran.
3) Perspektif Ekonomi: Ketidaksetaraan ekonomi dapat
menjadi hambatan dalam mencapai pendidikan yang adil dan berkualitas. Siswa
dari latar belakang ekonomi rendah mungkin mengalami kesulitan dalam mengakses
sumber daya pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, pendidikan inklusif harus
bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dengan memberikan sumber daya
yang memadai dan mendukung siswa dari semua lapisan masyarakat.
4) Perspektif Politik: Kebijakan pendidikan dan regulasi politik memiliki dampak besar pada sistem pendidikan secara keseluruhan. Kebijakan ini memengaruhi alokasi sumber daya, kurikulum, standar penilaian, dan praktek pengajaran. Penting bagi kebijakan pendidikan untuk mempromosikan aksesibilitas yang adil, kesetaraan, dan kualitas pendidikan yang tinggi bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang politik atau kepentingan tertentu.
Menurut
pandangan saya, kesiapan seorang guru dalam mengajar dengan memperhatikan
perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran pada peserta
didik merupakan aspek yang sangat penting. Guru harus memiliki pemahaman yang
mendalam tentang latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa
mereka. Ini termasuk mempelajari tentang keberagaman budaya di kelas, tantangan
yang dihadapi siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda, serta isu-isu
politik yang dapat memengaruhi proses pendidikan mereka.
Untuk mengatasi
keberagaman ini, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh guru dalam
menyusun pembelajaran yang mengutamakan kepentingan peserta didik:
1) Menerapkan pembelajaran
berdiferensiasi: Pendekatan ini bertujuan untuk memfasilitasi, melayani, dan
memenuhi kebutuhan belajar serta karakteristik yang beragam dari peserta didik.
Pembelajaran berdiferensiasi melibatkan tiga komponen utama: konten, proses,
dan produk. Dengan pendekatan ini, guru dapat menyesuaikan kurikulum, metode
pengajaran, dan penilaian sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan individu dari
setiap peserta didik.
2) Menerapkan pembelajaran tanggap
budaya: Mengingat keberagaman latar belakang siswa yang dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti kebudayaan, status sosial, dan ekonomi, guru perlu
mempersiapkan pembelajaran yang tanggap budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengintegrasikan kebudayaan atau kearifan lokal ke dalam pembelajaran sehingga
menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan responsif bagi siswa. Selain
itu, untuk mengembangkan keterampilan sosial dan kultural, guru dapat mendorong
komunikasi lintas budaya dan dialog budaya, misalnya dengan bermain peran serta
memahami perspektif dan pandangan orang lain.
Dengan
menerapkan pendekatan-pendekatan ini, guru dapat menciptakan lingkungan
pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan serta
pengalaman peserta didik, sehingga membantu mereka merasa dihargai dan
dihormati dalam identitas kebudayaan mereka serta mengembangkan keterampilan
sosial dan kultural yang penting dalam konteks global yang semakin terhubung.
4. Demonstrasi
Kontekstual: Apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi
kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan
diri sendiri)?
Dari
pengalaman proses demonstrasi kontekstual, saya dan rekan-rekan mahasiswa
memiliki kesempatan untuk berkolaborasi, berpikir kritis, dan saling mengasah
kemampuan dalam pemahaman Topik 3. Diskusi tersebut dilakukan dengan
menayangkan slide presentasi yang membahas konten pembelajaran dari ruang
kolaborasi. Kami menyadari bahwa memahami perspektif sosial, budaya, ekonomi,
dan politik dalam pembelajaran sangat penting untuk merancang pembelajaran yang
lebih relevan, responsif, dan efektif, terutama mengingat keberagaman latar belakang
dan karakteristik siswa yang beragam.
Dalam
merencanakan pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan kesiapan mereka dalam
memberikan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa. Ini
melibatkan pemilihan metode dan strategi pendekatan yang tepat, serta asesmen
dan penilaian yang sesuai untuk merangsang berpikir kritis dan menciptakan
lingkungan belajar yang inklusif.
Selain
itu, alur demonstrasi kontekstual menjadi kesempatan bagi kami untuk berdiskusi
dan mengatasi konsep-konsep yang mungkin kurang dimengerti, sebagai bagian dari
pengembangan diri dan peningkatan profesionalitas terkait perspektif sosial,
budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran. Dengan demikian, kami dapat
terus meningkatkan pemahaman kami dan mengintegrasikan pengetahuan ini dalam
praktik pengajaran kami untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna
dan efektif bagi siswa.
5. Elaborasi Pemahaman:
Sejauh ini, apa
yang sudah Anda pahami tentang topik ini?
Pada
Topik 3, saya telah memperoleh pemahaman mengenai pentingnya mempertimbangkan
perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam konteks pembelajaran.
Selain itu, saya juga menyadari tantangan yang timbul dalam menghadapi
perbedaan perspektif tersebut, di mana diperlukan pendekatan pembelajaran yang
holistik untuk mengatasi keberagaman latar belakang peserta didik.
Kesadaran
akan keberagaman menjadi kunci dalam memahami dan menghargai keragaman sosial,
budaya, ekonomi, dan politik di antara siswa. Ini dapat dilakukan dengan
memperkenalkan materi-materi yang mencerminkan keberagaman tersebut dan
mendorong diskusi terbuka tentang pengalaman siswa. Pembelajaran harus
dirancang agar relevan dengan konteks nyata siswa dan responsif terhadap
kebutuhan mereka.
Saya
percaya bahwa semua siswa harus merasa dihargai dan didukung dalam lingkungan
pembelajaran. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan siswa dalam pembentukan
budaya kelas yang inklusif, memperkuat komunitas belajar yang saling mendukung,
dan mengembangkan keterampilan analisis kritis melalui studi kasus terhadap
isu-isu sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, siswa dapat
memahami kompleksitas dunia mereka dan menjadi warga yang lebih terampil dan
terinformasi.
Apa hal baru yang
Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran
dimulai?
Sesuatu
yang baru yang saya pahami dan mengalami perubahan dari pemahaman awal sebelum
pembelajaran dimulai adalah pentingnya menyelaraskan pengajaran dengan realitas
siswa. Dalam proses ini, kita belajar untuk menghargai dan memahami
nilai-nilai, kepercayaan, dan praktik-praktik yang berbeda di antara individu
dan komunitas. Penghargaan terhadap keragaman ini tidak hanya memperkaya
pengalaman pembelajaran, tetapi juga memperkuat nilai-nilai inklusi, empati,
dan penghormatan terhadap perbedaan dalam masyarakat yang semakin terhubung.
Selain itu, menghadapi tantangan ini juga membantu kita mengembangkan
keterampilan adaptasi yang kuat, yang sangat berharga dalam menghadapi
perubahan yang berkelanjutan di lingkungan pembelajaran dan masyarakat pada
umumnya.
Proses
ini juga memperkuat ikatan dalam komunitas pembelajaran kita. Dengan membangun
lingkungan yang mendukung dan inklusif, kita menciptakan ruang bagi setiap
individu untuk merasa dihargai, didengar, dan didukung dalam perjalanan
pembelajaran mereka. Dengan pendekatan yang sensitif dan inklusif terhadap
beragam perspektif, kita juga meningkatkan kualitas pembelajaran. Materi yang
diajarkan menjadi lebih relevan, kontekstual, dan bermakna bagi siswa, yang
memperkaya pengalaman belajar mereka.
Selain
itu, mengatasi tantangan ini juga membawa dampak pada pemberdayaan individu.
Dengan memperkuat pemahaman dan keterampilan mereka dalam menghadapi berbagai
perspektif, individu menjadi lebih mampu untuk berkontribusi secara positif
dalam masyarakat yang semakin kompleks dan terhubung ini. Mereka dapat mencapai
potensi penuh mereka dan menjadi agen perubahan yang berarti dalam komunitas
mereka.
Apa
yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Sebagai
langkah lanjutan dalam pemahaman mengenai perspektif sosial, budaya, ekonomi,
dan politik dalam pembelajaran, saya tertarik untuk mengeksplorasi lebih dalam
tentang bagaimana guru dapat mengembangkan keterampilan pedagogis mereka dalam
menghadapi tantangan yang terkait dengan hal tersebut. Saya ingin memahami
lebih lanjut tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip seperti menghargai
keragaman budaya, membangun interaksi sosial yang mendukung, dan memahami zona
proksimal peserta didik dalam konteks pembelajaran yang sebenarnya. Selain itu,
saya ingin mengetahui bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang
memfasilitasi semua siswa merasa dihargai dan diterima, sambil mengintegrasikan
perbedaan budaya, latar belakang, dan pengalaman pribadi mereka ke dalam proses
pembelajaran.
Saya
juga tertarik untuk memahami bagaimana siswa dapat menggunakan kolaborasi dan
interaksi sebagai sarana untuk saling belajar dan berkembang. Selain itu, saya
ingin mempelajari strategi untuk menemukan dan merespons zona proksimal
individu dengan latar belakang yang beragam, serta bagaimana mengidentifikasi
potensi dan kebutuhan setiap siswa untuk membantu mereka berkembang secara
optimal. Tujuan saya adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam
tentang praktik-praktik konkret yang dapat saya terapkan dalam lingkungan
pembelajaran, sehingga saya dapat menjadi pendidik yang lebih efektif dalam
mendukung keberagaman dan perkembangan peserta didik saya.
6. Koneksi
Antar Materi: Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam
mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?
Koneksi antar
materi pada beberapa mata kuliah yang lain yang saya pelajari dari semester 1
hingga saat ini yang berkaitan dengan konsep dasar perspektif sosial, budaya,
ekonomi, dan politik dalam pembelajaran, melalui konsep Perspektif
sosiokultural dalam konteks pendidikan berarti memandang keberagaman
karakteristik siswa yang didasarkan pada status sosialekonomi [SES] yakni
aktivitas sosial dan interaksi orang dewasa-anak membentuk dasar sosialisasi
kognitif dan untuk memahaminya dapat menggunakan Cultural-Historical-Activity-Theory [CHAT].
Adapun koneksi antar materinya yaitu 1) MK Filosofi Pendidikan Indonesia yaitu
berdasarkan perspektif Ki Hadjar Dewantara bahwa perlu adanya
perubahan pendidikan yang mengutamakan “intelektualisme” menjadi sistem
mengajar berdasarkan “tuntunan” bukan “paksaan” agar menjadi manusia yang
merdeka dan bahagia secara lahir dan batin, 2) MK Prinsip Pengajaran dan Asesmen
yang Efektif yaitu asesmen tidak hanya mempertimbangkan aspek akademis tetapi
juga aspek non-akademis karena asesmen membahas cara mengevaluasi dengan
memperhitungkan keberagaman siswa seperti penilaian formatif, yang
mempertimbangkan latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik peserta
didik hingga memungkinkan adanya umpan balik.. Pembelajaran hendaknya
berdiferensiasi dan tanggap budaya untuk memfasilitasi peseerrta didik dalam
pembelajaran, dan 3) MK Praktik Pengalaman Lapangan yaitu melalui PPL sebagai
pengembangan diri dalam profesi guru dengan memperhatikan perspektif sosial,
budaya, ekonomi dan politik siswa dalam situasi nyata di kelas
dengan mempraktikkan strategi mengajar yang responsif dan efektif terhadap
keberagaman siswa dan menciptakan pembelajaran berpusat pada siswa.
7. Aksi Nyata:
Apa manfaat pembelajaran ini
untuk kesiapan Anda sebagai guru?
Pengetahuan
mengenai konsep dasar perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa
dalam konteks pembelajaran memberikan manfaat yang signifikan dalam persiapan
saya sebagai seorang guru. Dengan pemahaman yang kuat tentang latar belakang
sosial dan kedalaman budaya siswa, saya dapat meningkatkan relevansi dan
responsivitas pengalaman pembelajaran saya. Ini memungkinkan saya untuk
menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana setiap siswa merasa
dihargai dan didukung.
Perspektif ini
membantu saya melihat setiap siswa sebagai individu yang unik, dengan kebutuhan
dan potensi yang beragam. Hal ini memungkinkan saya untuk merespons dengan
lebih tepat terhadap keberagaman tersebut, serta menggunakan budaya dan konteks
sosial siswa untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran mereka. Diskusi yang
lebih luas dan pembangunan kemajuan akademik dan pribadi siswa juga dapat
didorong melalui pendekatan ini.
Selain
itu, pemahaman saya tentang bagaimana struktur sosial dan kekuasaan berfungsi
dalam konteks pendidikan memungkinkan saya untuk mengidentifikasi dan mengatasi
ketidaksetaraan yang mungkin ada di dalam kelas. Ini bertujuan untuk memberikan
kesempatan yang lebih adil bagi semua siswa.
Tidak
hanya itu, perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik siswa dalam
pembelajaran juga membekali saya sebagai agen perubahan dalam mempromosikan
inklusi dan kesetaraan di masyarakat secara keseluruhan dan di lingkungan
sekolah saya sendiri. Dengan demikian, saya dapat berperan aktif dalam
membangun lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua
siswa.
Bagaimana
Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya?
Jika
saya mengevaluasi tingkat kesiapan saya sebagai seorang calon guru, saya akan
menempatkannya pada skala 7 untuk kemampuan berinteraksi dengan siswa dari
beragam latar belakang. Namun, saya sadar bahwa saya belum sepenuhnya
mengimplementasikan dan mengalami kurangnya pengalaman dalam menerapkan
konsep-konsep yang telah saya pelajari terkait perspektif sosiokultural.
Implementasi praktik yang baik dari konsep-konsep ini membutuhkan waktu dan
latihan yang memadai, yang belum saya peroleh secara menyeluruh.
Selain itu, saya
juga menyadari bahwa saya belum memiliki kesempatan untuk melihat secara
langsung dan memahami dengan mendalam latar belakang siswa. Untuk memahami
kompleksitas keberagaman yang mungkin ada di dalam kelas, saya menyadari
pentingnya hadir secara langsung di lingkungan belajar dan berinteraksi
langsung dengan siswa.
Saya
juga menyadari bahwa pengetahuan saya tentang perspektif sosiokultural masih
terbatas, dan saya yakin bahwa masih banyak aspek yang lebih dalam dan beragam
yang akan saya pelajari dalam topik-topik selanjutnya. Misalnya, memahami lebih
lanjut komponen sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi pendidikan akan
membantu saya menjadi guru yang lebih siap dalam menerima berbagai jenis siswa.
Oleh karena itu, saya bertekad untuk terus belajar, meresapi pengalaman, dan
mencari cara untuk menerapkan ide-ide sosiokultural dalam praktik pembelajaran
saya sebagai bagian dari persiapan saya menjadi seorang guru yang lebih
kompeten dan responsif.
Apa yang perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan
optimal?
Saya
meyakini bahwa melalui kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan
Indonesia ini dan dengan melakukan tugas-tugas dengan sepenuh hati, saya akan
menjadi lebih siap dalam menerapkan pengetahuan yang saya peroleh ketika saya
memasuki dunia profesional sebagai seorang guru. Dengan berpartisipasi aktif
dalam aktivitas akademis ini, saya akan memiliki peluang untuk memperluas
wawasan dan pemahaman saya mengenai bagaimana variabel kontekstual, sosial, dan
budaya berpengaruh pada proses pendidikan.
Pendekatan ini
memberikan fondasi yang kokoh untuk peran seorang guru, yang tidak hanya
memerlukan pemahaman yang kuat terhadap materi pelajaran, tetapi juga pemahaman
yang dalam mengenai bagaimana menerapkan konsep-konsep sosiokultural dalam
pengajaran sehari-hari. Dengan demikian, saya akan memiliki kemampuan yang
lebih besar untuk memenuhi kebutuhan siswa yang beragam dan menciptakan
lingkungan pembelajaran yang lebih mendukung. Sesuai visi saya yaitu “Menjadi Guru
Professional Yang Penuh Dedikasi Serta Menjadi Tauladan Untuk Peserta Didik”,
dari visi ini saya berharap saya dapat berkontribusi positif dalam siswa meraih
potensi yang optimal dan melakukan perubahan untuk kemajuan pendidikan
khususnya di Indonesia.
Comments
Post a Comment